Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juli 2011

KONFERENSI PERS

Konferensi Pers adalah kegiatan mengundang wartawan untuk berdialog, dengan materi yang telah disiapkan secara matang oleh Public Relations Officer (Pejabat PR).
-Sasaran pertemuan dalam Konferensi Pers diharapkan dapat dimuat dalam media massa (cetak, elektronik atau on line) dari wartawan yang diundang.

Tujuan Konferensi Pers:
-Menyebarkan informasi positif pada publik.
-Menetralisir berita atau membatah berita yang tidak benar atau negatif tentang perusahaan atau manajemen.
-Meningkatkan citra (company image atau product/brand image).
-Membina hubungan secara langsung dengan Pers.

Persiapan Konferensi Pers:
-Kirimkan undangan kepada redaksi minimal tiga hari sebelum konferensi pers berlangsung.
-Cek kembali undangan yang sudah dikirimkan.
-Membuat News Release/Press Release yang ingin disampaikan dalam Konferensi Pers.
-Menunjuk juru bicara dalam Konferensi Pers, yang mengetahui permasalahan yang akan dibahas. Biasanya terdiri dari beberapa orang yang sesuai dengan bidang masing-masing dan satu sama lain saling menunjang.
-Menyiapkan tempat pertemuan sesuai dengan jumlah yang diundang dan tuan rumah.
-Lengkapi dengan LCD Projector, OHP dalam pertemuan itu.
-Jika Konferensi Pers sebelum atau sesudah makan siang, siapkan makanan kecil dan minumannya.
-Sediakan sovenir (kalau ada).
-Buat daftar hadir/buku tamu, khusus bagi wartawan ketika baru datang.
-Lama dan jalannya Konferensi Pers diatur secara ringkas, padat, jelas, dan terarah, agar waktu tidak terbuang, mengingat masih banyaknya tugas wartawan yang lain.
-Bila ada wartawan dalam Konferensi Pers bertanya di luar konteks, perlu dijawab bila tidak akan menimbulkan citra negatif pada perusahaan atau ditolak secara halus.
-Bila ada wartawan tak diundang, datang ke konferensi pers atau di bawa temannya yang diundang, tetap saja layani dan terima baik-baik


Sikap dan perilaku menghadapi Pers:
-Selalu bersedia menerima dan menampung dahulu apa yang wartawan inginkan.
-Tidak ragu, curiga atau takut, kendati ada masalah di perusahaan yang bisa menjadi konsumsi pers.
-bersikap dan berperilaku wajar dan ramah.
-Melayani dengan komunikatif dan informatif.
-Bila dalam perusahaan ada kasus, perlu terapkan prinsip bahwa segala permasalahan dapat dicari pemecahannya dan hadapi dengan sikap tenang.

Syarat-syarat Penyelenggaraan Konferensi Pers:
-Tujuan, alasan mengapa Konferensi Pers diadakan.
-Tanggal pelaksanaan, memilih tanggal yang tepat.
-Tempat penyelenggaraan.
-Daftar tamu
-Undangan
-Identitas tamu
-Paket pers, segala informasi yang akan disampaikan.
-Konsumsi
-kenang-kenangan
-Pengelolaan acara.

Rabu, 01 September 2010

Hidup Dikuasai Media Massa

Hidup Dikuasai Media

Media massa telah menjadi fenomena tersendiri dalam proses komunikasi massa dewasa ini bahkan ketergantungan manusia pada media massa sudah sedemikian besar.
Joseph Straubhaar & Robert La Rose dalam bukunya Media Now, menyatakan; the Avarege Person spend 2600 Hours per years watcing TV or listening to radio. That,s 325 eight-hourdays, a full time job. We spend another 900 hours with other media, including, newpaper, books, magazines, music, film, home video, video games and the internet, that about hours of media use – more time than we spend on anything else, including working or sleeping (straubhaar & La Rose, 2004 : 3)

Berdasarkan AC Nielsen Survey di tahun 1999 terlihat bahwa 61% sampai 91% masyarakat Indonesia gemar menonton televise. Lebih lanjut dijelaskan bahwa “hampir 8 dari 10 orang dewasa di kota-kota besar menonton televisi setiap hari dari 4 dari 10 orang mendengarkan radio” (Media Indonesia, 16 Nopember 1999). Hal ini menunjukkan bahwa menonton televisi merupakan aktivitas utama masyarakat yang seakan tak bisa ditinggalkan. Realitas ini sebuah bukti bahwa televisi mempunyai kekuatan menghipnotis pemirsa, sehingga seolah-olah televisi telah mempengaruhi seseorang melalui agenda settingnya.

Seperti yang telah kita semua ketahui, Media memang sudah menguasai kehidupan masyarakat terutama di wilayah perkotaan. Hal ini tidak terlepas dari kemajuan teknologi yang telah membuat komunikasi semakin mudah, murah, dan cepat. Masalahnya, teknologi media bukan lagi sebagai rekan masyarakat untuk mempermudah komunikasi, namun juga menjadi momok bagi masyarakat karena malah membuat masyarakat tergantung padanya. Media mengekspose setiap sendi kehidupan masyarakat sehingga timbul masalah privasi. Selain itu, semakin tingginya tingkat ketergantungan masyarakat terhadap media akan menyebabkan secara tidak langsung media mengontrol masyarakat.